Posts

Showing posts from October, 2014

Dia - Seseorang

Saya butuh seseorang yang bisa diajak bertengkar, yang dua menit kemudian ia bisa menemani saya tertawa. Kita menertawakan ketololan yang lahir dari teriakan-teriakan, yang lahir dari kesalahpahaman, yang lahir dari kebodohan salah satunya. Saya butuh seseorang yang kuat meyakinkan. Tapi kemudian realistis, menyerah karena saya yang keras kepala. Lantas, tersenyum ketika terbukti, nasihatnya benar. Saya butuh seseorang yang menyadarkan bukan dengan pekikan. Cukup dengan tatapan dan senyuman. Saya butuh seseorang yang menguatkan tanpa harus saya berkata lelah. Ia yang bisa menerka dari diam dan senyum saya yang pelan-pelan hambar. Yang sesekali bertanya kenapa. Kemudian merangkul saya dalam dekapannya. Tanpa banyak bicara. Saya butuh seseorang yang sesekali manja. Bisa membuat kopi sendiri, tapi menunggu saya buatkan. Ia yang hanya mau mandi dengan air hangat dan tidur dengan tangan saya di dadanya. Saya butuh seseorang yang jika saya lupa, ia mengingatkan dengan tand...

Menetaplah

Jika kau memang nyaman di sini, maka menetaplah. Kelemahanku adalah tidak bisa menyakitimu seperti yg dia lakukan. --mbeeer

Keserupaan dengan hujan

Aku ingin menemukan seseorang yang memiliki keserupaan dengan hujan; hujan tidak lelah datang meskipun kehadirannya seringkali tidak diinginkan. Selalu kembali meskipun tahu sakitnya jatuh berkali-kali. --penakecil

Hujan ini

Image
Hujan ini mengingatkanku  untuk merindu Tiap bulir membumi dimataku menguak kenangan tentangmu mengiringku lantunkan senduku Ingatkah kamu? Hujan saksi bisu aku dan kamu

Dan lenyaplah, segala memoar tentang dua bunga tertinggal di padang savana.

Image

Awan

Ini bukan cerita tentang aku dan senja. Bukan tentang bintang yang menenangkan. Bukan tentang bunga yang semakin hari semakin menguras kesabaran. Dan bukan tentang ombak yang terkadang masih menjengkelkan. Ini tentang aku dan awan. Tentang aku yang selalu menanti awan datang. Melindungiku dari teriknya matahari. Bukannya aku bermanja-manja padanya, tapi terkadang aku memang ingin selalu bersamanya. Aku sadar, kami terpisah oleh jarak. Walau tak sejauh aku dengan senja. Tapi tetap saja, aku sulit untuk menggapainya. Belakangan ini, aku tidak bertemu dengan awan. Rasanya panas! Matahari secara langsung mengenai kepalaku. Uhh aku merindukan keteduhannya. Aku rindu ketika ia menangis menumpahkan air hujan. Aku rindu semuanya tentang awan. Awan, apa kau disana? Apa kau masih suka memperhatikanku? Terkadang, aku mengadah menatap langit, mencari awanku. Mencari awan yang kukenal. Tapi lngit tetap terlihat terik. Tak ada tanda-tanda awan diatas sana. Aku merindukanmu,...

Senja ini

Image
Senja ini mengingatkanku padamu..pada gelak tawa yg beberapa hari ini tak kutemui..pada tatapan manja yang selalu menuntut untuk slalu dicintai.. pada semua marahmu tentang rindu..senja ini menyudutkanku memaksaku merindumu..

Opini kebebasan

Kamu. Cukup untuk dicintai. Tak perlu dimiliki. Karena bukankah cinta itu seharusnya membebaskan?

Rectroverso

Seperti spektrum senja di kala dini hari. Aku akhirnya menyadari bahwa gelap tak selamanya gelap. -- R for Rectoverso

Ironis

Ironisnya, kita membawa awan hujan yang sama sembari berjalan di jalan yang berdampingan, lalu kita berpapasan jalan menimbulkan hujan yang menenangkan, namun kini kita berpisah jalan dan yang tersisa hanya kubangan.

Analogi

Ruang ini kubuka lebar, bukan berarti kamu bisa masuk lalu mengambil apa yang ada didalamnya. Ruang ini tak kukunci, bukan berarti kamu boleh mencuri apa yang jadi milikku.

Ada kala nya

Ada kalanya kamu buatku diam lalu tersenyum karena sinyal-sinyalmu yang menandakan mungkin kita bisa memulai hujan kita. Ada kalanya kamu begitu hangat, dengan gerimis yang dengan lembut jatuh membelai permukaan kulitku. Ada kalanya aku tidak mampu berbuat lain selain berharap, kalau-kalau kita akan berada di jalan yang sama, yang searah. Ada kalanya aku tanpa sengaja menatap tanganmu, bertanya-tanya kalau aku menggenggamnya, akankah kamu menggenggam balik? Namun, ada kalanya kamu terasa begitu jauh, seperti hujan di kota sebelah dan aku tak mampu beli tiket kereta untuk mendatanginya. Ada kalanya, kamu jadi satu-satunya tembok yang membatasi aku dan kamu. Kapan kita akan jadi kita?                                                                                     ...

Ketika Aku Pergi

Nanti ketika aku telah benar-benar pergi, Siapa yg akan menyelamatkanmu dari kejamnya orang-orang di sekitarmu? Siapa yg akan mengawasi tingkah laku cerobohmu itu? Nanti ketika aku telah benar-benar pergi, Siapa yg akan mencegahmu untuk terjatuh? Siapa yg akan kamu salahkan ketika dunia menyalahkan kamu? Nanti ketika aku telah benar-benar pergi, Siapa yg akan mencintai dirimu sedangkan kamu tak bisa mencintai dirimu sendiri? Dan ketika aku telah memutuskan untuk benar-benar pergi, Siapa yg akan menyembuhkan lukamu? Siapa yg akan setia mendengarkan keluh kesahmu? Siapa yg akan menguatkanmu ketika kamu tak mampu berdiri? Siapa? Walaupun kamu tau aku tak pernah bisa benar-benar pergi dan membiarkanmu tersakiti sendiri. Aku takut ketika suatu saat kamu mulai mencari— ternyata aku telah lama pergi.                                                   ...
Kadang, menjadi tidak tahu itu menenangkan.