Dia - Seseorang
Saya butuh seseorang yang bisa diajak
bertengkar, yang dua menit kemudian ia bisa menemani saya tertawa. Kita
menertawakan ketololan yang lahir dari teriakan-teriakan, yang lahir
dari kesalahpahaman, yang lahir dari kebodohan salah satunya.
Saya butuh seseorang yang kuat meyakinkan. Tapi kemudian realistis,
menyerah karena saya yang keras kepala. Lantas, tersenyum ketika
terbukti, nasihatnya benar. Saya butuh seseorang yang menyadarkan bukan
dengan pekikan. Cukup dengan tatapan dan senyuman.
Saya butuh seseorang yang menguatkan tanpa harus saya berkata lelah. Ia yang bisa menerka dari diam dan senyum saya yang pelan-pelan hambar. Yang sesekali bertanya kenapa. Kemudian merangkul saya dalam dekapannya. Tanpa banyak bicara.
Saya butuh seseorang yang sesekali manja. Bisa membuat kopi sendiri, tapi menunggu saya buatkan. Ia yang hanya mau mandi dengan air hangat dan tidur dengan tangan saya di dadanya.
Saya butuh seseorang yang jika saya lupa, ia mengingatkan dengan tanda-tanda. Dengan gurauan yang semakin menambah penasaran. Kemudian, berkata “pelupa” sambil mengusap kepala saya perlahan.
Saya butuh seseorang yang setiap sepertiga malam, subuh dan petang, menyodorkan punggung tangannya untuk dikecup setelah selesai menyembah Allah. Yang setelahnya, duduk bersila menghadap saya sembari menyerahkan Al-Qur’an untuk dibaca bergantian.
Saya butuh seseorang yang selelah apa pun, senyumnya tetap merekah setiba di rumah.
Saya butuh seseorang yang menguatkan tanpa harus saya berkata lelah. Ia yang bisa menerka dari diam dan senyum saya yang pelan-pelan hambar. Yang sesekali bertanya kenapa. Kemudian merangkul saya dalam dekapannya. Tanpa banyak bicara.
Saya butuh seseorang yang sesekali manja. Bisa membuat kopi sendiri, tapi menunggu saya buatkan. Ia yang hanya mau mandi dengan air hangat dan tidur dengan tangan saya di dadanya.
Saya butuh seseorang yang jika saya lupa, ia mengingatkan dengan tanda-tanda. Dengan gurauan yang semakin menambah penasaran. Kemudian, berkata “pelupa” sambil mengusap kepala saya perlahan.
Saya butuh seseorang yang setiap sepertiga malam, subuh dan petang, menyodorkan punggung tangannya untuk dikecup setelah selesai menyembah Allah. Yang setelahnya, duduk bersila menghadap saya sembari menyerahkan Al-Qur’an untuk dibaca bergantian.
Saya butuh seseorang yang selelah apa pun, senyumnya tetap merekah setiba di rumah.