Awan
Ini bukan cerita tentang
aku dan senja. Bukan tentang bintang yang menenangkan. Bukan tentang
bunga yang semakin hari semakin menguras kesabaran. Dan bukan tentang
ombak yang terkadang masih menjengkelkan.
Ini tentang aku dan awan. Tentang aku yang selalu menanti awan datang. Melindungiku dari teriknya matahari. Bukannya aku bermanja-manja padanya, tapi terkadang aku memang ingin selalu bersamanya.
Aku sadar, kami terpisah oleh jarak. Walau tak sejauh aku dengan senja. Tapi tetap saja, aku sulit untuk menggapainya.
Belakangan ini, aku tidak bertemu dengan awan. Rasanya panas! Matahari secara langsung mengenai kepalaku. Uhh aku merindukan keteduhannya. Aku rindu ketika ia menangis menumpahkan air hujan. Aku rindu semuanya tentang awan.
Awan, apa kau disana? Apa kau masih suka memperhatikanku? Terkadang, aku mengadah menatap langit, mencari awanku. Mencari awan yang kukenal. Tapi lngit tetap terlihat terik. Tak ada tanda-tanda awan diatas sana.
Aku merindukanmu, awan. Sungguh. Bahkan melihat pesan yang kau jatuhkan pun tak mengobati hati ini. Aku ingin bersua. Aku ingin berteduh seperti biasa.
Ini tentang aku dan awan. Tentang aku yang selalu menanti awan datang. Melindungiku dari teriknya matahari. Bukannya aku bermanja-manja padanya, tapi terkadang aku memang ingin selalu bersamanya.
Aku sadar, kami terpisah oleh jarak. Walau tak sejauh aku dengan senja. Tapi tetap saja, aku sulit untuk menggapainya.
Belakangan ini, aku tidak bertemu dengan awan. Rasanya panas! Matahari secara langsung mengenai kepalaku. Uhh aku merindukan keteduhannya. Aku rindu ketika ia menangis menumpahkan air hujan. Aku rindu semuanya tentang awan.
Awan, apa kau disana? Apa kau masih suka memperhatikanku? Terkadang, aku mengadah menatap langit, mencari awanku. Mencari awan yang kukenal. Tapi lngit tetap terlihat terik. Tak ada tanda-tanda awan diatas sana.
Aku merindukanmu, awan. Sungguh. Bahkan melihat pesan yang kau jatuhkan pun tak mengobati hati ini. Aku ingin bersua. Aku ingin berteduh seperti biasa.