NAMAKU YUKE

Aku Yuke, yang tak jua gila menatap punggungmu saat aku berjalan d belakangmu.
Aku Yuke, yang keras kepala untuk membuatmu menahan tawa disela hawa bosan pembimbing kita menuju cita.
Aku Yuke, yang ingin selalu kehabisan tinta untuk menyentuhmu seraya bertanya “apakah kau punya dua?”
Aku Yuke, si kikuk yang belum kuasa mengangkat cakap ringanmu tentang hal sekitar yang masih terjangka.
Aku Yuke, yang kemudian pulang mengepal tangan untuk memasukan asa hampa ke desak dada.
Aku Yuke, yang duduk meminta pengakuan petang bahwa ini bukanlah egositas yang bercanda.
Aku Yuke, yang sudah enggan bercerita tentang benda sabar munafik yang terletak disebelah kiri bias kaca.
Aku Yuke, yang mengasap membunuh diri pelan-pelan beralasan pemicu sepat kata dimulut saja.
Aku Yuke, si pemaksa aksara, si pemanfaat ambisi hati semata di hilir sengit malam doa yang saat ini kau baca.
Aku Yuke, yang berharap Jibril memantra agar huruf yang kau eja bukanlah keseganan untuk berbangga.
Aku Yuke, yang kali ini menjejalkan kata dengan ejaan akhir mengang’a’ agar mudah menyebut namamu setelahnya.
Aku masih Yuke, ketika kau bertanya untuk jawaban yang kau ketahui, seperti “untuk apa semua ini orang gila?”
Aku masih Yuke, ketika aku terhempas dan bisu, kembali ke paragraf pertama, mengeras dikutuk masa.

Comments

Popular posts from this blog

Jarak. Penggalan dari Sajak Kolaborasi Berjudul Ruh.

Dedicated stongest ever girl

You’re the full moon to my high tide.