Lupa sudah hangatnya senja yang menerpa punggung dan sejuknya embun yang menetes di kening. bila semua proses itu akan selalu menuju pada kebaikan, maka embun dan senja ku lah kebaikanku. Kau embunku, bukan senjaku. dan kau senjaku bukan embunku..
Jarak. Penggalan dari Sajak Kolaborasi Berjudul Ruh.
andai saja menemukan sebuah jawaban semudah kita menanyakan seribu pertanyaan dalam kepala, aku tak perlu lelah bertanya di mana kiranya Tuhan mempertemukan kita? sedangkan mata, telinga juga seluruh panca indera berlomba-lomba mencari rasa yang sama rata. bukankah seharusnya kamu yang melengkapi cerita? andai saja mimpi dan nyata bisa kutukar sesukanya, bukan tidak mungkin kupilih hanya kamu yang ada di dalamnya. biar sepi tak perlu repot-repot aku persilakan duduk di antara jarak pandang kita. biar tak perlu ada kata menunggu di antara jeda nafas kita. lalu, apa yang biasanya kamu lakukan saat aku tak di sana? di sisiku selalu ada rindumu, yang menunggu kuantarkan pulang. bergandengan tangan bersama doa yang tak pernah berkurang. menujumu mereka melaju, membawa serta sebagian aku. khawatir bukanlah bagianmu, karena ini hatiku tak mampu memanggil nama selain kamu. jika ada kata yang lebih ‘mencintaimu’ dari kata ‘cinta’, itu pasti ‘aku’. jadi biarkan aku, cinta da...
Comments
Post a Comment