Injak

Bila nanti tiba waktunya. Mata tertutup jarak yang tidak lagi terkalahkan. Jangan ada kesal yang tersisa. Baik bilang semua. Jangan paksa saya berjuang sendiri, karena tidak akan pernah lagi saya mau. Ada cemas yang menggusur gemas. Tidaklah ada bagi saya tempat yang pantas.
Bila nanti tiba waktunya. Mulut terkunci rapat, oleh serak yang tidak lagi dapat disembuhkan. Jangan ada sesal yang terbiasa. Baik bilang semua. Jangan paksa saya meluang rongga sendiri, karena tidak akan pernah lagi saya mau. Ada kertas yang kelak jadi batas. Tidaklah ada bagi saya tempat yang pantas.
Berpestalah teriakan puas kemenangan. Lupakan dan anggaplah semua ini tanah. Injaklah! Injaklah terus sampai air menyingkir dan lumpur menjadi debu. Injaklah terus walau mata berair. Bila tidak tangan mengepal, menghantam dinding kebesaran, maka dekatlah waktunya, untuk mata yang tertutup dan mulut yang terkunci rapat.

--palawija

Comments

Popular posts from this blog

Jarak. Penggalan dari Sajak Kolaborasi Berjudul Ruh.

Dedicated stongest ever girl

You’re the full moon to my high tide.