Sejak Sudah

Menghadapi semua ego dan ke-tidak-mau-tau-an-mu itu, mungkin aku tidak mampu. Yang aku tau, aku mau hidup dalam segala ketidakmampuan itu.
Sebagian aku, mati suri. Sebagian lagi rindu tanpa aksentuasi.
Rindu pada sesuatu yang bahkan tidak aku ingat apa, entah cara merindukan atau rasa dirindukan, dipedulikan. Dan Ketidakpedulian adalah sejauh-jauhnya perpisahan.
Bagiku, kamu adalah segala rencana nyata tanpa jangka. Bagimu, aku hanya separuh mimpi, yang bahkan sebentar saja.
Cukup. Tidak perlu mencoba mendefinisikan cinta, ketika cinta salah kamu pahami, kamu yang akan kecewa sendiri.
Dari awal. Aku tidak berniat mencari kebahagian darimu, yang aku inginkan adalah kita menciptakan kebahagian itu.
Kalaupun ini adalah sebuah ketersesatan, nyatanya kamu udara diam yang sedang kujadikan tujuan.
Ini bukan tentang bisa atau tidak, tapi soal keinginan mencoba. Semoga, atau tidak.
Kekecewaan itu hal biasa, tidak merasakan kecewa berarti tidak belajar apa-apa tentang kita.
Seandainya kesempurnaan yang kamu cari. Maka maaf, aku bukan bagian dari apapun yang kamu sebut mimpi.
Detak jantung kita pernah mengisi sepi, mengiringi dansa purnama di atap semesta.
Dua kita kehilangan cerita, perlahan tak ada sebagianpun dari hari-harimu yang aku tau.
Aku sejatuh-jatuhnya cinta. Kamu? pergi sejauh-jauhnya cerita.
Aku masih di tempat yang lalu, sama seperti saat kau tinggalkan.
Aku masih di tempat yang lalu, sama seperti saat kau ragu dan berlalu.
Aku masih di tempat yang lalu. Memintal sendiri do’a dan cerita yang tengah kau tinggalkan.
Aku masih di tempat yang lalu, sama seperti saat kita masing-masing dengan cangkir-cangkir kita sendiri.
Hanya saja, ketika itu ada kita. Atau mungkin dari dulu seutuhnya hanya ada aku.
Mungkin keberadaan aku nanti, ketika mimpi sudah kau genggam kembali. Dan aku yang beranjak pergi.
Kamu yang telah luar biasa kuindahkan, ternyata luar biasa mudah meninggalkan.
Segala bahagia yang kau tinggalkan dibelakang sana, adalah penyangkalan terhadap apa yang kau sebut masa depan.
Sedikit berharap ada aku sekecil saja di kepalamu. Karena di kepalaku, kamulah setiapnya.
Pagi pernah sendu, matahari terbit yang tanpa kamu.
Kepergianmu, penjara yang bukan sekedar persinggahan.
Kehilanganmu, kesanggupan yang tidak aku inginkan.
Sudah.

Comments

Popular posts from this blog

Jarak. Penggalan dari Sajak Kolaborasi Berjudul Ruh.

Dedicated stongest ever girl

You’re the full moon to my high tide.