Review: Hujan dan Teduh


Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.
Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan…
Pada awalnya saat saya hendak membeli novel ini, yang membuat saya tertarik adalah judul dan covernya yang bagus. Iya, cover novel ini sangat simpel dengan gradasi warna hijau kebiruan dengan ilustrasi gambar cabang pohon, dua ekor kupu-kupu kertas dan titik-titik air. Pikir saya, sampul bukunya cantik ya?. Lalu ketika saya membaca sinopsis di belakangnya, saya langsung senyum-senyum sendiri di toko buku. Saya suka kalimat-kalimat yang digunakan. Tanpa pikir dua kali saya langsung meletakkan novel ini di dalam tas belanja saya. Pikiran saya langsung membayangkan sebuah kisah sepasang anak manusia yang romantis nan manis dan akan membuat saya tersipu-sipu sendiri ketika membacanya.

Ya, begitu tadinya pikir saya.

Di bab satu-dua awalnya saya belum dapat menebak bagaimana kisah ini akan bermuara, seperti apa plotnya juga konfliknya. Cerita dalam novel ini dibagi menjadi dua bagian yaitu; masa sekarang si tokoh utama dan masa lalunya yang diketik miring. Tokoh utama dalam novel ini bernama Bintang, digambarkan sebagai seorang gadis yang kuat, anak tunggal yang dibesarkan hanya oleh ibunya. Dari sini saya membayangkan unsur feminis dalam kisah ini cukup kuat. Cerita dalam novel ini dibuka dengan masa lalu Bintang, bagaimana dia berkenalan dengan seorang gadis yang akhirnya menjadi sahabatnya, Kayla. Di bab yang sama juga dikisahkan masa kini si tokoh utama dengan awal jumpanya dengan seorang pemuda yang akhirnya menjadi kekasih si tokoh utama, Noval.

Sampai disini apa yang kira-kira kita tebak dari cerita ini? Kisah cinta segitiga dua sahabat dengan satu pemuda? Tidak, tidak. Bukan cerita model itu yang ditawarkan novel ini. Semakin banyak lembar yang saya singkap semakin membelalak mata saya dibuat. Saya terkejut karena ternyata novel ini jauh dari kisah romantis manis seperti yang awalnya saya bayangkan. Novel ini mengangkat kisah tentang sisi lain kehidupan remaja yang kelam, suram hingga membuat saya merasa miris hingga hampir sepanjang durasi saya menghabiskan novel ini. Plot utamanya, kisah tentang dua gadis yang saling jatuh cinta dan bagaimana sang gadis melewati masa lalunya dan bertemu dengan seorang kekasih yang posesif dan cenderung psycho.

Secara keseluruhan saya menyukai novel ini. Saya kagum pada Wulan yang berani mengangkat tema ini dalam novel pertamanya. Saya juga kagum karena penulisnya mampu menyajikan sebuah kisah suram dalam bahasa yang manis. Hanya saja yang saya sayangkan, kenapa tokoh utama dalam novel ini seolah mendapatkan cobaan yang tidak ada habis-habisnya. Setelah sekian banyak cobaan yang harus dihadapi, dia masih harus menerima karma atas perbuatan kejam yang pernah dilakukannya dimasa lalu. Sedikit banyak saya mengharapkan sebuah akhir yang manis sebagai penutup. Oke, penutupnya memang cukup manis, namun saya mengharapkan sesuatu yang lebih manis dari itu. Selain itu, sayang sekali ada satu dua bagian di novel ini yang kurang rapi karena kesalahan teknis. Ada bagian yang flashback yang belum di cetak miring dan ada satu kata yang kurang spasi dengan kata yang lain (saya lupa halaman berapa).

Novel ini mungkin bukan bacaan yang pas untuk teman minum teh di sore hari, tapi jika ingin kisah yang bukan hanya menceritakan tentang romantisme kehidupan muda mudi semata, novel ini bisa menjadi pilihan yang tepat. Acungan jempol untuk Wulan, tidak heran jika karyanya ini menjadi juara pertama Lomba Menulis Novel oleh Gagas Media.

Comments

Popular posts from this blog

Jarak. Penggalan dari Sajak Kolaborasi Berjudul Ruh.

Dedicated stongest ever girl

You’re the full moon to my high tide.